Anwar Tjen Online
Selasa, 19 Agustus 2008
  Kata “Allah” dan “TUHAN” dalam Alkitab kita
(oleh Anwar Tjen, juga dimuat dalam Warta Sumber Hidup edisi Agustus 2008)

Pengantar
Padanan “Allah” masih terus dipersoalkan oleh sebagian pengguna Alkitab terbitan LAI. Persoalan ini mencuat ke permukaan, karena ada kelompok-kelompok yang alergi terhadap kata “Allah” dan ingin menghidupkan kembali penggunaan nama Yahweh atau Yahwe. Dalam teks Ibrani sebenarnya nama ini ditulis hanya dengan empat huruf konsonan (YOD-HE-WAW-HE, “YHWH”) tanpa huruf vokal, namun ada yang bersikeras, keempat huruf ini harus diucapkan. Terjemahan LAI dianggap telah menyimpang, bahkan menyesat­kan umat Kristiani di tanah air. Sungguh patut disayang­kan, kontroversi mengenai nama-nama ilahi telah menimbulkan keresahan di kalangan umat pengguna Alkitab. Apakah LAI yang dipercaya gereja-gereja untuk menerjemah­kan Alkitab telah melakukan kesalahan yang begitu mendasar? Haruskah semua Alkitab terbitan LAI ditarik dari peredaran seperti tuntutan pengagung nama Yahweh yang militan? Di mana sebenarnya letak persoalannya?

Pertama-tama, kita perlu mengetahui latar belakang penolakan terhadap kata “Allah”. Menurut salah satu selebaran yang dikeluarkan Bet Yesua Hamasiah (“Siapakah Yang Bernama Allah itu”, P.O. Box 6189 JKPMT 10310 Jakarta), “ALLAH adalah nama berhala” sehingga “tidak boleh ada pada kita di hadapan YAHWE” dan “tidak boleh dipanggil dan tidak boleh kedengaran dari mulut kita”. Lebih parah lagi, kata “Allah” dikaitkan langsung dengan berbagai tindak kekerasan terhadap umat Kristiani. Kelompok Bet Yesua Hamasiah tidak sendirian. Ada berbagai kelompok lainnya yang memiliki pandangan yang serupa. Bahkan di antara kelompok-kelompok yang “anti-Allah” ini ada yang berpendapat, roh yang berada di balik kata “Allah” tidak lain daripada roh Iblis. Itulah sebabnya mereka mendesak LAI untuk menghapus kata “Allah” seluruhnya dari Alkitab yang beredar luas. Sebaliknya, mereka menuntut agar nama sakral YHWH digunakan lagi dalam Alkitab terbitan LAI.

Beberapa Alkitab pengagung nama Yahweh
LAI memang menolak tuntutan mereka, namun para pengagung Yahweh tidak menyerah begitu saja. Malah, mereka nekad membajak teks Alkitab Terjemahan Baru terbitan LAI (1974, disingkat TB) dengan hanya mengganti kata “Allah” dan “TUHAN”, seperti dalam terbitan berikut:
- Kitab Suci 2000 yang dikeluarkan oleh Bet Yeshua Hamasiah, P.O. Box 6189 JKPMT 10310 (selanjutnya disingkat KS2000);
- Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan yang dikeluarkan oleh Jaringan Gereja-gereja Pengagung Nama Yahweh, Jakarta 2002 (tanpa alamat; selanjutnya disingkat KSUPT).
Sulit dibayangkan bagaimana tindakan yang tidak suci ini dapat dihalal­kan untuk “mengagungkan” nama yang suci itu.

Selain kedua jiplakan itu, baru-baru ini beredar lagi sebuah Alkitab berjudul Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru versi ILT (Indonesian Literal Translation, disingkat KSILT) terbitan Yayasan Lentera Bangsa (2007). Menurut pengakuan penerbit, KSILT merupakan terjemahan dari The Interlinear Bible karya Jay P. Green, Sr. Sama seperti KS2000 dan KSUPT, KSILT memakai nama YAHWEH dan tidak menggunakan kata “Allah” sama sekali. Sayangnya, terjemahan KSILT pun tidak seorisinil yang diklaim, karena jejak-jejak Alkitab TB terdeteksi di dalamnya. Ditilik dari segi waktu, proses penerjemahan KSILT tergolong “fantastis”, hanya memerlu­kan sekitar dua tahun, mulai dari pemerolehan izin pada September 2005 sampai dengan penerbitannya pada Oktober 2007! Ini tentu luar biasa singkat bila dibandingkan dengan proses penerjemahan Alkitab TB. Tim penerjemah TB yang terdiri dari para pakar Indonesia, Belanda dan Jerman bekerja berdasarkan teks Ibrani, Aram dan Yunani sejak tahun 1952. Hasil terjemahan tim yang telah melalui proses uji coba baru dapat terbit seluruhnya pada tahun 1974.

Mengapa LAI menggunakan kata “Allah”?
Dalam Alkitab TB, kata “Allah” digunakan umumnya sebagai padanan untuk ’ELOHIM, ’ELOAH dan ’EL dalam bahasa Ibrani. Sebagai contoh, dalam Kejadian 1:1, kata ’ELOHIM diberi padanan “Allah”: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”. Kata “Allah” juga digunakan sebagai padanan ’EL, seperti dalam Mazmur 22:2: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (bdk. Mat 27:46). Dalam terbitan-terbitan Alkitab yang “anti-Allah”, tentu saja kata “Allah” telah dihapus sama sekali. Dalam Kejadian 1:1, misalnya, KS2000 memuat kata ELOIM, KSUPT menggunakan kata “Tuhan”, KSILT mentransliterasinya sebagai ELOHIM. Anehnya, ’EL yang lebih singkat tidak ditransliterasi melainkan ditulis sebagai “ELOIM” (KS2000), “Tuhan” (KSUPT) dan ELOHIM (KSILT).

Dari segi bahasa, tidak dapat dipungkiri, kata ’EL, ’ELOAHdan ’ELOHIM berkaitan dengan akar kata ’L yang umum digunakan untuk sembahan dalam dunia Semitik kuno yang politeis. EL, ILU atau ILAH adalah bentuk-bentuk serumpun yang sering digunakan untuk dewa tertinggi. Jika demikian, apa implikasinya? Umat Israel ternyata mengambil alih istilah yang digunakan bangsa-bangsa sekitarnya. Tentu saja, mereka juga memberi isi yang baru dalam pemahaman mereka akan ’EL, ’ELOAH dan ’ELOHIM! Yang mereka sembah adalah satu-satunya Pencipta langit dan bumi. Proses yang serupa masih terus dilakukan ketika firman Tuhan mencapai berbagai bangsa dan budaya di seluruh dunia.

Sebaliknya, berbagai kelompok pengagung Yahweh berpendapat, kata “Allah” tidak boleh hadir dalam Alkitab umat Kristiani. Ada yang memberi alasan bahwa “Allah” adalah nama diri Tuhan yang disembah umat Muslim. Ada pula yang mengaitkannya dengan dewa-dewi bangsa Arab yang politeis. Seandainya ingin konsisten dengan pendirian seperti ini, ’EL, ’ELOAH dan ’ELOHIM pun harus disingkirkan dari Alkitab Ibrani! Lagi pula, seperti terbukti dari inskripsi Zabad (512) dan Umm al-Jimmal (abad ke-6), kata “Allah” telah digunakan umat Kristiani Ortodoks sebelum lahirnya agama Islam. Hingga saat ini, umat Kristiani di negeri seperti Mesir, Irak, Aljazair, Yordania dan Libanon tetap memakai “Allah” dalam Alkitab mereka. Jadi, kata “Allah” tidak dapat diklaim sebagai milik eksklusif satu agama saja.

Kebijakan LAI dalam soal pengambilalihan padanan untuk ’ELOHIM, ’ELOAH dan ’EL bukanlah suatu inovasi. Terjemahan Alkitab yang pertama ke dalam bahasa Yunani sekitar abad ketiga sM merupakan contoh tertua yang kita miliki. Terjemahan yang dikenal dengan nama “Septuaginta” itu dikerjakan di Aleksandria, Mesir, dan ditujukan bagi umat Yahudi berbahasa Yunani. Dalam Kejadian 1:1, misalnya, Septuaginta meng­guna­kan istilah THEOS yang biasa dipakai untuk dewa-dewa Yunani. Nyatanya, Perjanjian Baru pun memakai kata yang sama untuk Bapa Tuhan kita Yesus Kristus: ”Terpujilah Allah (THEOS), Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah (THEOS) sumber segala penghiburan” (2 Kor 1:3). Sejarah penerjemahan Alkitab di nusantara memperlihatkan pengambil­alihan yang serupa. Istilah “Allah” telah digunakan berabad-abad sebelum berdirinya LAI pada tahun 1954, antara lain, dalam beberapa terjemahan berikut:
- Terjemahan Injil Matius oleh A.C. Ruyl (1629): “maka angkou memerin’ja nama Emanuel artin’ja Allahu (THEOS) ſerta ſegala kita” (Mat 1:23).
- Terjemahan Kitab Kejadian oleh D. Brouwerius (1662): “Lagi trang itou Alla (’ELOHIM) ſouda bernamma ſeang” (Kej 1:5).
- Terjemahan M. Leijdecker (1733): “Pada mulanja dedjadikanlah Allah (’ELOHIM).
- Terjemahan H.C. Klinkert (1879): “Bahwa-sanja Allah (’EL) djoega salamatkoe” (Yes 12:2).
- Terjemahan W.A. Bode (1938): “Maka pada awal pertama adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah” (THEOS).

Singkatnya, ketika meneruskan penggunaan istilah “Allah”, bukan saja bobot sejarah yang menjadi pertimbangan tim penerjemah LAI tetapi juga proses inkulturasi yang sudah terlihat dalam Alkitab sendiri.

Apa dasar kebijakan LAI dalam soal “YHWH”?
Harus diakui, asal-usul nama YHWH tidak mudah ditelusuri. Dari segi bahasa, YHWH sering dikaitkan dengan kata HAYAH ‘ada, menjadi’, seperti yang terungkap dalam Keluaran 3:14: “Firman Allah (’ELOHIM) kepada Musa: ‘AKU ADALAH AKU.’ (’EHYEH ’ASHER ’EHYEH). Lagi firman-Nya: ‘Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU (’EHYEH) telah mengutus aku kepadamu.’” Maknanya yang persis tidak diketahui, namun ada yang menafsirkannya sebagai kehadiran Tuhan yang ‘ADA’ menyertai sejarah umat-Nya. Dalam soal ini, para pengagung Yahweh bersikeras, nama YHWH tidak boleh diterjemahkan. Tidak menjadi masalah apakah YHWH disalin sebagai Yahweh, Yahwe atau Yehuwa. Mereka menganggap LAI – sebenarnya juga kebanyakan lembaga Alkitab di seluruh dunia – telah menghilang­kan nama sakral itu.

Mengapa LAI yang tidak mentransliterasi saja nama YHWH? Apa dasar LAI menggunakan kata “TUHAN” (seluruhnya huruf besar) sebagai padanan umum untuk YHWH? Untuk menjawab ini, kita perlu memperhatikan sejarah. Umat Yahudi sesudah pembuangan amat segan menyebut nama sakral YHWH secara langsung oleh karena rasa hormat yang mendalam. Lagi pula, pengucapan YHWH yang persis tidak diketahui lagi. Setiap kali bertemu dengan kata YHWH dalam pembacaan Alkitab Ibrani, mereka menyebut ’ADONAY yang berarti ‘Tuhan’. Tradisi pengucapan ini juga terlihat jelas dalam Septuaginta yang menggunakan kata KYRIOS (‘Tuhan’) untuk YHWH, misalnya, dalam Mazmur 23:1: ”KYRIOS (YHWH) menggembala­kan aku, dan aku tidak kekurangan apa pun”.

Tidak dapat disangkal, tradisi ini juga yang diikuti oleh Yesus dan para rasul! Sebagai contoh, dalam pen­cobaan di gurun, Yesus menjawab godaan Iblis dengan kutipan dari Ulangan 6:16: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan (KYRIOS), Allahmu” (Mat 4:7). Teks yang dikutip diambil dari Septuaginta yang memang dibaca umat Kristiani perdana sebagai Kitab Suci. Dalam kutipan itu tidak ditemukan nama YHWH melainkan KYRIOS. Jika nama YHWH harus ditulis seperti dalam teks Ibrani, mengapa penulis Injil Matius tidak mempertahankannya? Begitu pula, dalam surat-surat rasul Paulus, nama YHWH tidak pernah ditulis satu kali pun. Dalam Roma 10:13, misalnya, ia mengutip teks dari Yoel 2:32: “Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan (KYRIOS) akan diselamatkan”. Jelaslah, kata yang digunakan adalah KYRIOS, bukan YHWH.

Apa implikasinya bagi penerjemahan Alkitab ke dalam berbagai bahasa? Mungkinkah Yesus dan para rasul telah mengikuti suatu tradisi yang “keliru”, sehingga para penerjemah LAI pun ikut-ikutan “ngawur”? Dalam soal ini, para pengagung Yahweh biasanya bersikukuh bahwa Yesus pasti mengucapkan YHWH. Buktinya, kitab-kitab Injil seperti versi Du Tillet dan versi Shem Tov memuat nama sakral itu, entah ditulis dengan dua huruf YOD dan satu HE (HASHEM ‘Nama Itu’) atau dengan tiga YOD (YHWH). Mereka yakin, kitab-kitab Injil berbahasa Ibrani, atau setidaknya berbahasa serumpun (Aram, Siria), lebih dapat dipercaya. Alasannya? Perjanjian Baru, menurut mereka, aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani, bukan Yunani! Akan tetapi, berdasarkan ilmu penelitian naskah (textual criticism) harus ditegaskan, hipotesis ini amat ringkih tanpa bukti tekstual yang kuat. Dari segi usia pun, kedua versi “Ibrani” yang diandalkan masih terlalu muda (versi Shem Tov dari sekitar abad ke-13 dan versi du Tillet dari abad ke-16). Bahkan, versi-versi berbahasa Siria, yang juga dijadikan bukti, masih lebih muda usianya (antara abad keempat sampai kelima) daripada beberapa papirus berisi salinan teks Yunani Perjanjian Baru. Sebagai contoh, papirus 45, yang memuat berbagai bagian kitab-kitab Injil dan Kisah Para Rasul, berasal dari abad ketiga. Papirus 46, yang memuat berbagai bagian surat-surat rasuli, berasal dari sekitar tahun 200. Papirus 90, yang memuat bebe­rapa bagian Injil Yohanes, bahkan berasal dari abad ke-2! Jadi, dari perbandingan usia naskah saja pun, sangat sulit meyakini, naskah-naskah Semitiklah yang lebih dekat dengan Perjanjian Baru yang “asli”. Sebaliknya, perlu ditegaskan, Perjanjian Baru memang ditulis dalam bahasa Yunani yang digunakan sebagai bahasa pengantar di kekaisaran Romawi pada masa kehidupan Yesus dan para rasul. Nyatanya, para penulis Injil dan surat-surat rasuli tidak berusaha mempertahankan penulisan YHWH. Mereka tidak alergi dengan kata THEOS yang juga digunakan dalam konteks kepercayaan lain.

Singkatnya, LAI mengikuti teladan Yesus, para rasul dan umat Kristiani per­dana menyangkut pengucapan YHWH. Dalam Alkitab TB, misalnya, kata “TUHAN” ditulis dengan huruf besar semua sebagai padanan untuk ’ADONAY yang mengingat­kan pengucapan YHWH. Penulisan ini memang sengaja dibedakan ­dengan “Tuhan” (hanya huruf pertama besar), padanan untuk ’ADONAY yang tidak merepresentasi YHWH. Perhatikan contoh berikut: “Sion berkata: ‘TUHAN (YHWH) telah mening­gal­kan aku dan Tuhanku (’ADONAY) telah melupakan aku.’” (Yes 49:14). Pem­bedaan ini tentu tidak relevan untuk Perjanjian Baru yang tidak memper­tahankan penulisan YHWH.

Berbagai terjemahan modern rupanya mengikuti tradisi yang sama, misalnya, dalam bahasa Inggris: “the LORD” (New Jewish Publication Society Version; New Revised Standard Version, New International Version, New King James Version, New Ameri­can Bible, Revised English Bible, Today’s English Version); Jerman: “der HERR” (Einheits­übersetzung; die Bibel nach der Übersetzung Martin Luthers); Belanda: “de HEER” (Nieuwe Bijbelvertaling); Perancis”: “le SEIGNEUR” (Traduction Oecumé­ni­que de la Bible); Italia: “il SIGNORE” (La Sacra Biblia Nuova Riveduta).

Penutup
Dengan demikian, kebijakan LAI mengenai padanan untuk nama-nama ilahi tidak diambil secara simplistis. Berbagai aspek harus dipertimbangkan dengan matang, antara lain:
- Teks sumber (Ibrani dan Aram untuk Perjanjian Lama; Yunani untuk Perjan­jian Baru) dan tafsirannya
- Tradisi umat Tuhan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
- Sejarah pemakaian nama-nama ilahi dalam penerjemahan Alkitab ke dalam berbagai bahasa dan budaya dari zaman ke zaman
- Kebijakan yang diikuti tim-tim penerjemahan Alkitab di seluruh dunia, khususnya yang bergabung dalam Perserikatan Lembaga-lembaga Alkitab se-Dunia (United Bible Societies)
- Kesepakatan yang diambil bersama-sama dengan gereja-gereja dari berbagai denominasi, baik Katolik maupun Protestan, yang menggunakan Alkitab terbitan LAI hingga saat ini. Sebelum penerbitan Alkitab TB, misalnya, telah dilaku­kan terlebih dahulu konsultasi pada tahun 1968 di Cipayung yang dihadiri para pimpinan dan utusan gereja-gereja. Konsultasi seperti ini ber­tujuan untuk menguji terjemahan yang dihasilkan dan menam­pung usul-usul bagi penyempurnaan­nya.

LAI tidak pernah berpretensi seolah-olah terjemahannya sudah sempurna dan tidak perlu diperbaiki lagi. Akan tetapi, mengingat proses panjang dan berhati-hati yang ditempuh dalam menerbitkan Alkitab, tuntutan beberapa kelompok yang ingin menyingkirkan atau memulihkan nama tertentu, tidak dapat dituruti begitu saja. Dalam semua proses pengambilan keputusan menyangkut terjemahan Alkitab, tidak hanya substansi tekstual-teologis yang harus diper­timbangkan dengan saksama tetapi juga dampaknya bagi persekutuan, kesaksian dan pelayanan umat Tuhan bersama-sama, khususnya di tanah air kita.

Bogor, akhir Juli 2008
 

Foto Saya
Nama:

Menikah dengan Marta Romauli Simamora, dikaruniai tiga putra: Tobias, Theosis dan Timaeus. Melayani sebagai pendeta di Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI, berpusat di Pematangsiantar) dan konsultan ahli di Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Studi lanjut dalam filologi dan tafsir Kitab Suci di Union Theological Seminary in Virginia, USA (Th.M./1995), Pontificium Institutum Biblicum, Roma (1997-98), Ecole Biblique, Yerusalem, Universitas Tesalonika, Yunani (2000). Menyelesaikan studi doktoral di Fakultas Studi Oriental, Cambridge University, UK (PhD/2003), dengan disertasi mengenai Septuaginta, yakni Kitab Suci Ibrani yang pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani. Studi komplementer dalam bidang linguistik di Australian National University, Canberra (GradDipl/2007).

Arsip
Mei 2008 / Agustus 2008 / September 2008 / Januari 2009 / April 2009 / Oktober 2009 / Juni 2012 / Juli 2012 / Oktober 2012 / Februari 2013 / Mei 2013 /


Powered by Blogger

Berlangganan
Postingan [Atom]