Anwar Tjen Online
Senin, 06 April 2009
  YESUS DARI NAZARET SEORANG BAPA SUCI
(oleh Anwar Tjen, terbit di Pustakaloka, Kompas, 6 April 2009)

Satu karya lagi tentang Yesus dari Nazaret, kali ini dari pena seorang Bapa Suci. Penerbitan Yesus dari Nazaret karya Joseph Ratzinger memang menggelitik rasa ingin tahu. Apa lagi yang mau dikatakan setelah deretan panjang karya sejenis? Apa yang khas dari “pencarian” Kardinal Ratzinger yang terpilih menjadi Paus Benediktus XVI?

Seperti terungkap dalam prakata, karya yang satu ini adalah buah pencariannya akan “wajah Tuhan” (Mazmur 27:8) yang sudah lama ditempuh secara batiniah (innerlich). Siapa pun berhak membantahnya, namun ia meminta simpati pembaca untuk menyimaknya sebelum menyimpulkan sebaliknya.

Pandangan Ratzinger jelas bertolak belakang dengan pencarian Yesus yang cuma menghasilkan sosok manusia biasa. Sebut saja berbagai pencarian Yesus historis sejak Hermann S. Reimarus di abad ke-18 hingga John. D. Crossan dari kalangan “Seminar Yesus” di Amerika Serikat belakangan ini. Kerap kali hasilnya kontroversial. Betapa tidak, entah ditampilkan sebagai nabi atau guru bijak bestari, keilahian Yesus dipersoalkan. Kesahihan sabda-Nya pun diragukan, karena dianggap mencerminkan pandangan Gereja kemudian. Figur yang diimani umat Kristiani sebagai Tuhan, di mata mereka tak lebih dari seorang manusia.

Tidak mengherankan, kritik tajam dilontarkan Uskup Roma itu terhadap rekonstruksi sejarah yang “alih-alih menyibakkan sebuah ikon yang telah lama dikaburkan ... lebih serupa dengan protret para pengarangnya beserta gagasan-gagasan yang mereka punyai”. Di balik kritik ini mengalir deras arus pergeseran paradigma dalam penafsiran Kitab Suci, khususnya sejak masa pencerahan. Dalam pusaran arus rasionalisme, manusia Barat membaca Alkitab bukan hanya sebagai teks sakral yang menyampaikan wahyu ilahi tetapi sebagai tulisan manusia yang terkondisi oleh budaya dan sejarah. Alhasil, berbagai pandangan dogmatis dan keyakinan adikodrati dipertanyakan ulang, bahkan dibongkar, antara lain, lewat perangkat penelitian yang disebut metode historis-kritis.

YESUS HISTORIS
Menariknya, dalam pencarian wajah Tuhan, Ratzinger juga berenang dalam arus yang serupa. Metode historis-kritis tidak diharamkannya. Selaras dengan hakikat iman yang berjangkar pada realitas historis, metode ini malah sangat esensial untuk menelisik konteks historis peristiwa-peristiwa yang dituturkan. Untuk sampai kepada Yesus historis (historischer Jesus), Yesus sesungguhnya, ia bersikap eklektik dengan memilah dan memilih tafsiran yang dinilai paling solid berdasarkan data historis yang tersedia. Tentu saja, ada berbagai pertanyaan yang tidak terjangkau oleh metode historis-kritis semisal apakah manusia Yesus sebelum kelahiran-Nya adalah Allah sendiri. Persoalan bagaimana sosok Yesus dimengerti secara kristologis dalam keterpaduan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru juga tidak dapat diputuskan hanya lewat metode ini. Pemahaman demikian melibatkan keputusan iman yang berpijak pada akal budi historis (historische Vernunft), suatu gagasan bernas yang sayangnya tidak diuraikan lebih jelas.
Yang ingin disuguhkan kepada pembaca adalah Yesus historis yang jauh lebih logis dan mudah dipahami daripada rekonstruksi yang menciutkan apa saja sebagai gejala manusiawi belaka. Penelitian Rudolf Schnackenburg, misalnya, hanya menyimpulkan betapa intimnya hubungan Yesus dengan Allah. Melampaui kesimpulan sebatas itu, penulis menegaskan status Yesus sebagai Anak yang hidup dalam kesatuan dengan Bapa. Tanpa inti hakiki ini, segala perkataan, tindakan dan pengalaman Yesus tidak terpahami. Dimensi kristologis inilah yang membedakan Dia dan Musa yang meski dekat sekali dengan Allah tidak diizinkan melihat wajah-Nya.

Bagian pertama dari dua jilid yang direncanakan menguraikan beberapa peristiwa penting dalam kehidupan Yesus, berikut dengan ajaran-Nya. Pembaca boleh jadi bertanya-tanya mengapa titik berangkatnya justru pembaptisan-Nya, bukan kelahiran-Nya. Alasannya hanyalah soal prioritas. Mengingat usia penulis yang kian meluruh dalam waktu, karya dan ajaran Yesus lebih mendesak untuk dihadirkan ke hadapan publik. Pandangan kristologis-sakramental tampil sebagai warna dominan dalam refleksi teologisnya. Ini kelihatan, misalnya, dalam ulasannya mengenai Doa Bapa Kami. Makanan sehari-hari yang dimohonkan tidak dimengerti sebatas jasmani melainkan mencakup pula makanan dalam perjamuan surgawi kelak. Makanan sakramental berupa tubuh Kristus pada perayaan ekaristi mengantisipasi makanan surgawi itu.

Mengingat kekhasannya, Injil Yohanes mendapat perhatian tersendiri di antara kitab-kitab Injil. Dengan dukungan argumen pakar semumpuni Martin Hengel, penulis menepis pandangan Rudolf Bultmann yang menelusuri akar pemikiran Yohanes pada pandangan Gnostik. Faktanya, aliran Gnostik baru berkembang sejak abad kedua, sementara Injil Yohanes ditulis menjelang akhir abad pertama. Perkiraan ini dikukuhkan oleh penemuan fragmen salinannya di Mesir yang berasal dari awal abad kedua.

Proses “kreatif” yang bergulir di balik penulisan Injil itu tidak disangkal oleh Ratzinger. Bagai senyawa yang diracik dari beberapa unsur, di dalamnya terpadu kisah yang diwariskan “murid terkasih” Yesus, ingatan pribadi anonim yang menulisnya, tradisi gereja dan realitas historis. Namun, ia tidak dapat menerima pendapat Hengel yang menilai penulis Yohanes telah “memerkosa” (vergewaltigt) realitas historis. Sebaliknya, Ratzinger bersikukuh, peran Roh Penghibur (Yunani, parakletos) yang ditekankan oleh Hengel tidak seharusnya melemahkan peran ingatan historis. Ingatan tidak berarti pemelintiran fakta historis semaunya. Seperti yang dialami para murid pasca kebangkitan Yesus, ingatan membuka wawsasan baru mengenai apa yang sungguh-sungguh telah terjadi (factum historicum).

"APOLOGETIS"
Bagaimanapun, kajian Ratzinger tidak dimaksudkan sebagai perdebatan akademis dalam arena tafsir yang penuh ranjau. Sepanjang tulisannya, ia mengungkapkan kedalaman penghayatannya terhadap Kitab Suci sambil berdialog dengan pandangan dan realitas hidup kini. Khotbah Yesus di Bukit dimaknainya sebagai jawaban “tidak” terhadap rezim yang menginjak-injak harkat manusia. Dari sumur inspirasi yang sama ditimbanya kritik terhadap kezaliman kapitalisme yang menurunkan nilai manusia menjadi komoditas. Ucapan Bahagia dalam khotbah yang terkenal itu, tegas Ratzinger, sepantasnya direnungkan sebagai ajakan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan hakiki mengenai sikap hidup dan pendirian kita.

Sembari berefleksi tentang godaan Iblis yang menantang Yesus “menyulap” batu menjadi roti, suara kritis diperdengarkan terhadap utopia ala Marxisme tentang kesejahteraan dunia yang merata. Apalagi, dunia utopis itu tidak menyisakan ruang bagi Allah. Dalam keyakinan penulis, sejarah mustahil dapat ditata menurut prinsip materialis semata-mata. Tanpa Allah yang adalah kebaikan itu sendiri, bagaimana mungkin hati manusia bisa baik? Tanpa hati yang baik, bagaimana mungkin semuanya dapat diubah menjadi baik?

Seperti kritik penulis terhadap potret-potret sebelumnya, pertanyaan kritis dapat pula diajukan mengenai potret Yesus versi Ratzinger. Sejauh mana protret alternatifnya menyibakkan ikon yang memudar dan tidak mencerminkan gagasan penulisnya sendiri? Bagi pembaca yang biasa terjun dalam gelanggang tafsir, nada Ratzinger cukup sering terdengar apologetis. Pandangan yang membela keyakinannya cenderung dipertahankan melawan pendapat yang berseberangan. Di balik proses ini pun teramati pengaruh tradisi gereja. Disadari atau tidak, soal siapa Yesus tak mungkin lepas dari soal keyakinan.

Terjemahan karya pewaris Takhta Suci itu, sayangnya, terkesan kurang merata. Terutama menjelang akhir, bahasanya kurang mengalir. Selain kata yang makin langka seperti “berkanjang”, penerjemah senang menciptakan istilah sendiri seperti “pindai-hati” yang belum dikenal luas. Pembaca yang jeli akan menemukan lima baris komentar editorial mengenai istilah “Sang Kebangkitan”, padanan der Auferstandene (hlm. 330), yang rupanya tak sempat dihilangkan sampai detik akhir penyuntingan.

(Anwar Tjen, PhD dari Universitas Cambridge dalam Filologi dan Tafsir Kitab Suci, Konsultan Lembaga Alkitab Indonesia)
 
Komentar: Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]



Link ke posting ini:

Buat sebuah Link



<< Beranda

Foto Saya
Nama:

Menikah dengan Marta Romauli Simamora, dikaruniai tiga putra: Tobias, Theosis dan Timaeus. Melayani sebagai pendeta di Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI, berpusat di Pematangsiantar) dan konsultan ahli di Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Studi lanjut dalam filologi dan tafsir Kitab Suci di Union Theological Seminary in Virginia, USA (Th.M./1995), Pontificium Institutum Biblicum, Roma (1997-98), Ecole Biblique, Yerusalem, Universitas Tesalonika, Yunani (2000). Menyelesaikan studi doktoral di Fakultas Studi Oriental, Cambridge University, UK (PhD/2003), dengan disertasi mengenai Septuaginta, yakni Kitab Suci Ibrani yang pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani. Studi komplementer dalam bidang linguistik di Australian National University, Canberra (GradDipl/2007).

Arsip
Mei 2008 / Agustus 2008 / September 2008 / Januari 2009 / April 2009 / Oktober 2009 / Juni 2012 / Juli 2012 / Oktober 2012 / Februari 2013 / Mei 2013 /


Powered by Blogger

Berlangganan
Postingan [Atom]